Keadaan Tak Berdosa dari KristusPara ahli theologia ortodoks pada umumnya setuju bahwa Yesus Kristus tak pernah melakukan dosa apapun juga. Agaknya ini adalah kesimpulan wajar bagi keilahianNya dan svarat mutlak bagi pekerjaanNya untuk menggantikan orang berdosa di atas kayu salib. Sesuatu pernyataan bahwa Kristus pernah mengalami kegagalim moral membutuhkan sebuah ajaran tentang’ pribadi Nya yang dalam satu segi menyangkal keilahian mutlakNya.
Suatu pertanyaan yang dilontarkanoleh ahli-ahli theologia ortodoks ialah, apakah ketidakberdosaan Kristus ini adalah sama dengan ketidak-berdosaan Adam sebelum kejatuhan, atau apakah memiliki suatu ciri khas karena adanva tabiat ilahi. Dengan satu kalimat,dapatkah Anak Allah dicobai seperti Adam dicobal dan dapatkah la berbuat dosa seperti Adam berbuat dosa? Sedangkan kebanyakan ahli theologia. ortodoks setuju bahwa Kristus dapat dicobal karena adanya tabiat manusiawi, suatu perselisihan terjadi tentang pertanyaan apakah dengan dicobai Ia dapat berbuat dosa.
Definisi Ketidakberdosaan
Ada pandangan yang percaya bahwa Kristus dapat berdosa, tetapi ada pula yang percava bahwa Kristus tidak dapat berdosa, sebab adanya tabiat ilahi di dalam Dia. Timbul pertanvaan terhadap pandangan kedua ini : apakah orang yang tak dapat berdosa masih bisa dicobai? Apabila Kristus mernilih tabiat manusiawi yang dapat dicobai bukankah ini di dalam dirinya suatu bukti bahwa la dapat berbuat dosa? Pandangan orang-orang yang percaya bahwa Kristus dapat berbuat dosa dinyatakan oleh Charles Hodge yang telah mengihtisarkan ajaran ini sebagai berikut:
Bagaimanapun, ketidak-berdosaan Tuhan kita tidak sama dengan tidak-dapat-berdosa yang mutlak. Hal itu bukan suatu “non potest peccare.” Apabila Ia manusia sejati tentulah la mampu berbuat dosa. Bahwa Ia tidak berbuat dosa di bawah provokasi yang terberatpun, bahwa ketika Ia dihina Ia bahkan memberkati, ketika Ia menderita Ia tidak mengancam, ketika la seperti domba di depan pengguntingnya la membisu, adalah merupakan suatu teladan bagi kita. Pencobaan mengandung kemungkinan berbuat dosa. Apabila dari pembawaan pribadi-Nya tidak mungkin Kristus berbuat dosa, maka pencobaan yang dialaminya tidak nvata dan tidak berakibat apa-apa, dan Ia tidak dapat menaruh simpati terhadap kita.
Persoalan yang dikemukakan oleh Hodge itu sungguh nyata dan, mengingat pengalaman kita sendiri pencobaan selalu disertai dengan kemungkinan untuk berdosa. Bagaimanapun juga Hodge mengakui bahwa ada beberapa pokok dalam argumentasinva yang mengundang pertanyaan. Untuk memecahkan persoalan mengenai apakah Kristus dapat berbuat dosa, perlu pertarna sekali, kita memeriksa sifat pencobaan itu sendiri untuk rnenentukan apakah kemungkinan untuk berdosa masuk di dalamnya. Kedua, menentukan faktor yang unik di dalam Kristus, yaitu bahwasanya la memiliki dua tabiat, yang sebuah tabiat ilahi dan yang lain tabiat manusiawi yang tak berdosa.
Dapatkah seseorang yang tak dapat berbuat dosa dicobai? Sudah disetujui oleh orang-orang yang berpendapat bahwa Kristus tidak berbuat dosa bahwa Ia tidak memiliki tabiat dosa. Maka, pencobaan apapun yang datang kepadaNya, adalah berasal dari luar dan tidak dari dalam, Seandainya dorongan wajar dari suatu tabiat yang tak berdosa dapat menjadi dosa bila tak terkontrol, tetapi tidak ada tabiat dosa untuk menyarankan dosa dari dalam dan membentuk suatu dasar yang menguntungkan bagi pencobaan. Harus diakui oleh Hodge, yang menolak pandangan “Kristus tak dapat berdosa,” bahwa dalam hal apa saja pencobaan Kristus adalah berbeda dari pencobaan orang berdosa.
Tidak hanva disetujui kenyataan bahwa Kristus tidak memiliki tabiat dosa, tetapi sebaliknya juga disetujui bahwa tentang pribadiNya Ia dicobai. Hal ini jelas dinyatakan di dalam Ibrani 4:15: “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahankita, sebaliknya sarma dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”
Juga jelas bahwa pencobaan ini datang kepada Kristus berdasarkan fakta bahwa la memiliki tabiat manusiawi, sebagaimana dinyatakan oleh Yakobus: “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata, pencobaan ini datang dari Allah! Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.”
Pada satu pihak, Kristus dicobai dalam segala segi kecuali melalui pencobaan yang berasal dari tabiat dosa, sebab Ia tidak mempunyai tabiat dosa, dan pada pihak lain tabiat ilahi-Nya tidak dapat dicobai karena Allah tidak dapat dicobai. Apabila tabiat manusiawi Nya memang dapat dicobai, maka tabiat ilahiNya tidak dapat dicobai. Pada pokok ini semua orang dapat setuju.
Persoalannya kemudian ialah, dapatkah seorang seperti Kristus yang merniliki tabiat manusiawi dan ilahi sekaligus, dicobai, apabila Ia tidak dapat berbuat dosa?
Jawabnya harus ya.
Pertanyaannya adalah, mungkinkah mencobai yang tak mungkin dicobai? Akan hal ini semua akan setuju. Mungkin saja sebuah perahu dayung menyerang sebuah kapal perang, bahkan walaupun sudah pasti tidak mungkin perahu dayung itu mengalahkan kapal perang tersebut. Pemikiran yang mengatakan bahwa karena dapat dicobai lantas berarti mudah dipengaruhi, adalah tidak sehat, Meskipun pencobaan itu dapat nyata sekali, juga kuasayang melawan pencobaan itu dapat tidak terbatas danapabila kuasa ini tak terbatas, maka orangnya tidak dapat berbuat dosa. Perhatikan bahwa pencobaan yang sama yang mudah sekali dilawan oleh seorang yang karakternya kuat, akan dirangkum oleh seorang yang karakternya lemah. Pencobaan yang datangnya dari minuman keras tidak mudah menjatuhkan seorang yang tidak biasa minum, tetapi gam pang sekali menjatuhkan seorang peminum. Dalam kedua kasus itu pencobaannya mungkin sama. tetapi orang-orang yang mengalami pencobaan itu memiliki kekuatan yang berbeda untuk menolaknya. Dengan demikian dapatlah ditunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang perlu antara hal dapat dicobai dan hal dapat berdosa. Jadi, pandangan Hodge yang mengatakan bahwa pencobaan itu haruslah tidak nvata apabila orang yang dicobai tak dapat berbuat dosa, adalah tidak tepat.
Sebagaimana William G. T.Shedd menunjukkan, hal dapat dicobai bergantung pada hal dapat dipengaruhi secara pembawaan untuk berdosa, padahal hal-tak-dapat-berdosa bergantung pada kehendak yang mempunyai kuasa besar untuk tidak berdosa. Shedd menulis.
Keberatan yang ada terhadap ajaran bahwaKristus tidak dapat berbuat dosa ialah bahwa ini bertentangan dengan kenyataan yang Kristus dapat dicobai.. Seorang yang tak dapat berdosa dikatakan, tak dapat dicobai untuk berbuat dosa. Ini tidak betul; sama seperti mengatakan bahwa karena satu angkatan peranq tak dapat dikalahkan maka mereka tidak dapat diserang. Hal. dapat dicobai bergantung kepada hal dapat dipengaruhi secara pembawaan, tetapi hal tak dapat berbuat dosa bergantung kepada kehendaknya. Sejauh menyangkut hal dapat dipengaruhi yang wajar dari Kristus, baik secara fisik dan mental, Yes us Kristus terbuka bagi segala bentuk pencobaan manusiawi kecuali pencobaan yang berasal dari daging, atau tabiat yang rusak. Tetapi hal dapat berdosaNya, atau kemungkinan dikalahkan oleh pencobaan-pencobaan itu, bergantung pada besarnya perlawanan menurut kehendakNya untuk menentang pencobaan itu. Pencobaan-pencobaan itu sangat kuat, tetapi apabila keputusan diri dari kehendak suciNya lebih kuat dari pada pencobaan-pencobaan tersebut, maka pencobaan-pencobaan itu tidak dapat mempengaruhi Dia untuk bsrbuar dosa,dan Ia akan menjadi tidak dapat berbuat dosa. Tetapi jelas Ia dapat dicobai. [1]
Pertanyaan ten tang apakah pribadi yang , tak dapat berbuat dosa bisa dicobai, diilustrasikan oleh contoh dari malaikat-malaikat pilihan ini dikemukakan oleh Shedd dalam kelanjutan diskusinya atas masalah hal tak dapat berbuat dosa :
Bahwa makhluk yang tak dapat berbuat dosa bisa dicobai, dibuktikan dari contoh malaikat-malaikat pilihan.Setelah “mempertahankan keadaannya yang semula,” maka sekarang mereka tak dapat berbuat dosa, bukan oleh kekuatan mereka sendiri, melainkan oleh kekuatan yang dianugerahkan Allah kepada mereka. Tetapi mereka masih bisa dicobai, watau kami mempunyai alasan bahwa mereka tidak dicobai lagi. Hal dapat dicobai adalah salah satu batasan yang perlu bagi roh yang terbatas itu. Tak ada satu makhluk-pun yang berada di luar kemungkinan untuk dicobai, wataupun ia barangkali, oleh anugerah, di luar kemungkinan untuk menyerah kepada pencobaan. Satu-satunya yang tak dapat dicobai ialah Allah; ho gar theos apeirastos (Yakobus 1 : 13). Dan ini asalnya dari tabiat satu Pribadi yang tak terbatas. Ambisi tentang sesuatu adalah motif yang ada pada dasar semua pencobaan. Ketika makhluk itu dicobai, disarankan kepadanya untuk berusaha “menjadi seperti allah.” Ia dianjurkan untuk berusaha memperoleh tempat yang lebih tinggi dari keadaannya sekarang sebagai makhluk Tetapi hal ini tentu saja tidak dapat dikenakan kepada Makhluk Tertinggi Ia sudah Allah atas segala sesuatu dan disembah selama-lamanya. Karena itu Ia mutlak tak dapat dicobai.
Apakah pencobaan-pencobaan yang dialami Kristus itu nyata?
Apabila pencobaan dari satu pribadi yang tak dapat berbuat dosa dianggap mungkin, dapatkah dikatakan tentang Kristus bahwa pencobaan-pencobaanNya nyata? Jikalau di dalam diriNya tidak ada tabiat yang sesuai untuk menyambut dosa, benarkah pencobaan itu nyata?
Pertanyaan ini juga harus dijawab ya.
Dalam umat manusia, kenyataan. pencobaan itu dapat dengan mudah dibuktikan oleh banyaknya dosa. Walaupun bagi Kristus tidak demikian, tetap terbukti bahwa pencobaan-pencobaan pada Kristus adalah nyata. Meskipun Kristus tak pernah mengalami pergumulan batin dari dua tabiat seperti yang dialami oleh Paulus dalam Roma 7, ada ban yak bukti tentang nvatanva pencobaan itu. Empat-puluh hari di padang gurun, setelah itu Kristus dicobai, menandai suatu usaha pada mana tak satupun manusia lain pernah mendapatnya. Pencobaan untuk mengubah batu menjadi roti merupakan pencobaan yang sangat nyata karena Kristus memiliki kuasa untuk melakukannya. Pencobaan untuk mempertunjukkan di muka umum tentang perlindungan Allah terhadap Kristus dengan melemparkan diri Nya dari atas Bait Allah juga merupakan pencobaan yang paling nvata. Tak seorang lainpun yang pernah ditawari kemuliaan dunia oleh iblis, tetapi Kristus demikian dicobai dan tetap tidak berbuat dosa, Walaupun pada satu pihak benar yang Kristus tidak mengalami pencobaan-pencobaan yang timbulnya dari sebuah tabiat dosa, sebaliknya, la dicobai dalam hal tak seorang lain pun pernah dicobai. Ditambahkan kepada tabiat pencobaan itu sendiri adalah kepekaan yang lebih besar dari Kristus. Tubuh Nya yang tanpa dosa adalah jauh lebih peka terhadap rasa lapar dan pemakaian sewenang-wenang dari pada orang-orang lain. Tetapi meskipun dcmikian, di dalam mengalami keinginan-keinginan ini secara penuh, Kristus sama sekali dapat menguasai diriNya.
Ujian terakhir tentang kenyataan pencobaan-pencobaanNya terdapat dalam pernyataan pergumulanNya di Getsemani dan kematianNya di atas kayu salib. Tak seorangpun dapat mengetahui pencobaan dari seorang yang suci untuk menghindari hukuman bagi dosa dunia. Inilah pencobaan terbesar untuk Kristus, sebagaimana kelihatan dalam sifat pergumulan dan penyerahanNya, Di atas kayu salib pencobaan yang sama tampak di dalam ejekan musuh-musuhNya untuk turun dari salib itu. Kristus dengan rela terus menanggung sengsara salib itu dan dari kehendakNya sendiri menyerahkan rohNya ketika saatnya tiba. Tidak ada pencobaan lebih .besar dari pada ini yang dapat dibayangkan. Meskipun pencobaan-pencobaan Kristus, karena itu, tidak selalu tepat sejajar dengan pencobaan-pencobaan kita, la telah dicobai sedalam-dalamnya bahkan sebagaimana kita dicobai. Dan kita dapat datang kepadaNya sebagai Imam Besar kita dengan keyakinan bahwa la sepenuhnya mengerti kekuatan pencobaan dengan keyakinan bahwa la sepenuhnya mengerti kekuatan pencobaan itu dan dosa, karena l a sendiri telah menqalarninva di dalam hidup dan kematian Nya (Ibrani 4: 15). Pencobaan-pencobaan Kristus, oleh .karena itu, memiliki suatu kenyataan yang sungguh, tanpa sesaatpun mengurangi hal-tak-dapat-berbuat-dosa Nya. Jadi karena itu, suatu ajaran yang patut tentang hal-tak-dapat-berdosa dari Kristus ini justru yang menguatkan kenyataan pencobaan-pencobaan Kristus disebabkan la melllilikj tabiat manusiawi yang dapat dicobai. Apabila tabiat manusiawi itu tak dapat dipertaharikan sebagaimana dalam kasus Adam oleh suatu tabiat ilahi, jelas bahwa tabiat manusiawi Kristus boleh jadi telah berdosa. Kemungkinan ini bagaimana-pun juga sepenuhnya dihapuskan oleh adanya tabiat ilahi.
Bukti Ketidakberdosaan Kristus.
Pemecahan akhir dari masalah ketidakberdosaan Kristus terletak dalam hubungan dari tabiat ilahi dan tabiat manusiawi. Pada umumnya disetujui bahwa setiap tabiat itu, ilahi dan manusiawi, mempunyai kehendaknya sendiri-sendiri dalam pengertian keinginan. Tetapi keputusan terakhir dari pribadi itu, dalam pengertian kehendak yang berdaulat, selalu selaras dengan keputusan tabiat ilahi Nva; Hubungan hal ini dengan masalah ketidak-berdosaan adalah jelas. Tabiat manusiawi, karena dapat dicobai, bisa menginginkan sesuatu yang apabila dikerjakan bertentangan dengan kehendak Allah. Dalam pribadi Kristus, bagaimanapun juga, kehendak manusiawiNya selalu mengabdi kepada kehendak ilahiNya dan tak pernah bertindak sendiri. Sedangkan semua setuju bahwa kehendak ilahi dari Allah tidak dapat berdosa, maka kwalitas ini menjadi kwalitas pribadiNya dan Kristus menjadi tak-dapat-berbuat-dosa. Shedd telah menerangkan pokok ini sebagai berikut :
Ketidak-mungkinan-berdosa dari Kristus dibuktikanoleh hubungan dari kedua kehendak di dalam pribadiNya. Setiap tabiatNya memiliki kehendaknya sendiri. Tetapi yang terbatas tidak pernah akan bertentangan dengan yang tak terbatas, melainkan menaati sepenuhnya dengan tetap. Apabila ini tidak demikian, maka akan ada suatu konflik dalam kesadaran diri Yesus Kristus, sama dengan yang ada dalam kesadaran diri rasul Paulus. Ia juga akan berkata, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidakaku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat, Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?” (Roma 7: 19,20,24). Tetapi Kristus tidak pernah berkata semacam ini, sebaliknya Allah-Manusia ini dengan tenang bertanya : “Siapakah di antararnu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46), dan pernyataan yang tegas darirasul Yohanes : “Di dalam Dia tidak ada dosa” (I Yohanes 3: 5). Baik dalam doa-doaNya maupun dalam kata-kataNya, dalam bentuk apapun, Yesus Kristus tak pernah mengucapkan pengakuan dosa pribadiNya. Sebab memang di dalam diriNya tidak ada dosa sama sekali. Ia tidak dapat menguraikan pengalaman agamaNya seperti yang dilakukan rasul-rasul-Nya, dan umatNya : “Keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging” (Galatia 5: 17).
Shedd seperti halnya sebagian besar Bapa-Bapa gereja tidak menerangkan bedanya keinginan dan kehendak. Bahwasanya tabiat manusiawi dan tabiat ilahi Kristus dapat mempunyai keinginan atau kemauan yang berbeda itu sudah terang. Tetapi di dalam tabiat kepribadianNya tidak bisa ada dua kehendak yang menentukan. Keputusan bisa merupakan hasil dari keputusan an tara dua kemauan, tetapi tidak mungkin ada dua kehendak dalam pengertian kehendak-kehendak yang berdaulat di dalam satu pribadi, bahkan di dalam satu Pribadi yangunik seperti Kristus. Semua ahli theologia ortodoks setuju bahwa keputusan terakhir dicapai oleh Kristus di dalam semua kasus adalah merupakan sebuah tindakan kehendak dari pribadiNya di dalam mana tabiat ilahiNya menguasai keputusan itu. Kehendak manusiawi tak pernah dapat melampaui kemauan di mana hal itu bertentangan dengan kehendak ilahiNya.
Persoalan tentang ketidak-berdosaan Kristus ini oleh karenanya menguraikan dirinya kedalam sebuah pertanyaan mengenai apakah sifat-sifat Allah dapat diselaraskan dengan ajaran hal-dapat-berdosa. Konsep tentang hal-dapat-berdosa di dalam pribadi Kristus secara pokok bertentanqan dengan sifat-sifat tak dapat berubah, mahakuasa dan mahatahu Nya.
Fakta tentang ketidak-berubahan Kristus ini adalah faktor menentukan yang pertama tentang hal ketidakberdosaanNya. Menurut Ibrani 13: 8, Kristus “tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya”, dan sebelumnya dalam surat kiriman yang sama ada mengutip ayat dari Mazmur 102: 27, “Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan” (Ibrani 1: 12). Karena di masa kekekalan lampau Kristus adalah suci, maka perlu sekali sifat kesucian ini maupun sifat-sifat lainnya dipelihara tetap tak berubah selama-lamanya. Maka, karena Ia tidak berubah, tentulah Kristus tak mungkin berbuat dosa. Apabila kita tak dapat memikirkan bahwa Allah dapat berdosa pada kekekalan di masa lampau, maka seharusnya juga benar yang Allah tidak mungkin berbuat dosa di dalam pribadi Kristus yang berinkarnasi. Tabiat dari pribadi Nya mencegah Dia terpengaruh untuk berbuat dosa.
Kemahakuasaan Kristus juga menjadikan tak mungkin Ia berbuat dosa. Hal dapat berdosa selalu mencakup kelemahan di bagian orang yang dicobai; ia lemah sampai pada batas ia dapat berdosa. Mengenai Kristus, ini jelas tak usah dipersoalkan. Meskipun tabiat manusiawi Kristus, jikalau ditinggalkan sendiri, dapat berbuat dosa dan mampu dicobai, tetapi karena dihubungkan dengan tabiat ilahi yang mahakuasa, pribadi Kristus menjadi tak dapat berbuat dosa. Dengan kata lain, pribadi Kristus tak mungkin berdosa.
Kita harus hati-hati membedakan antara kemahakuasaan, yang mempunyai kwalitas tak terbatas dan karena itu akan tetap tak dapat berbuat dosa, dengan konsep tentang kuasa atau anugerah yang cukup. Hal-tak-dapat-berbuat-dosa didefinisikan sebagai tak mungkin berdosa karena tak bisa berdosa, sedangkan konsep tentang kuasa yang cukup semata-mata berarti “dapat tidak berdosa.” Satu makhluk moral dan Allah yang ditahan oleh anugerah Allah, dapat mencapai pengalaman moral tentang menjadi dapat-tidak-berdosa sebagaimana diilustrasikan dalam setiapkemenangan atas pencobaan di dalam kehidupan Kristen, Semua setuju bahwa Kristus dapat tidak berdosa, bahkan mereka yang berpandangan bahwa la dapat berbuat dosa. Bagaimanapun juga, yang menjadi kontrasnya ialah antara pemikiran tentang kuasa yang cukup dan kemahakuasaan. Kwalitas tak terbatas dari kemahakuasaan membenarkan pernyataan bahwa Kristus tak dapat berbuat dosa.
Adalah suatu spekulasi yang bodoh untuk berusaha menentukan apa yang akan dilakukan oleh tabiat manusiawi Kristus apabila tidak dihubungkan dengan tabiat ilahiNya. Fakta yang ada tetap menyatakan bahwa tabiat manusiawi itu dihubu ngkan dengan tabiat ilahi dan, meskipun keadaannya ,sendiri seluruhnya manusiawi, tabiat itu tidak dapat melibatkan pribadi Kristus di dalam dosa. Atas dasar kemahakuasaan, dapat disimpulkan bahwa Kristus tidak dapat berdosa karena la mem punyai kuasa yang tak terbatas untuk melawan pencobaan.
Kemahatahuan Kristus memberikan sokongan besar bagi ketidak-berdosaNya. Dosa seringkali datang karena ketidaktahuan orang yang dicobai. Itulah sebabnya Hawa tertipu dan berdosa, walaupun Adam tidak tertipu tentang sifat pelanggaran itu. Dalam hal Kristus, akibat-akibat dosa itu dengan sempurna diketahuinya dengan segala faktor yang menyokongnya. Tak mungkin bagi Kristus yang memiliki kemahatahuan untuk melakukan hal yang la tahu hanya dapat membawa celaka besar yang kekal kepada diriNya dan kepada umat manusia. Dengan sekaligus memiliki juga kebijaksanaan yang tak terbatas untuk melihat d osa dengan sebenarnya dan pad a saat yang sama memiliki kuasa tak terbatas untuk melawan pencobaan, jelas bahwa Kristus tidak mungkin berbuat dosa.
Sungguh tak masuk akal menganggap Kristus dapat berdosa. Terang bahwa Kristus tak dapat berdosa di dalam sorga sekarang bahkan walaupun Ia memiliki kemanusiaan yang sejati. Apabila Kristus tak dapat berbuat dosa di sorga karena siapakah la adanya, maka demikian juga Kristus tak dapat berbuat dosa di bumi karena siapakah Ia dulu adanya.
Meskipun mungkin saja Kristus dalam-tubuh manusiawi-Nya mengalami pembatasan dari jenis yang bukan moral – seperti semacam kelemahan, penderitaan, kelelahan, duka-cita, lapar, amrah dan bahkan kematian – tak satupun dari semuanya ini dapat menciptakan komplikasi yang mempengaruhi kesucianNya yang tak dapat ebrubah itu. Allah dapat saja mengalami melalui tabiat manusiawi Kristus akan hal-hal ini yang biasa menimpa umat manusia, tetapi Allah tidak dapat berbuat dosa bahkan walaupun dihubungkan dengan satu tabiat manusiawi. Apabila dosa dimungkinkan dalam kehidupan Kristus, seluruh rencana alam semesta bergantung pada hasil dari pencobaan-pencobaanNya. Ajaran mengenai kedaulatan Allah pasti menghalangi keadaan semacam itu. Oleh karena itu tidak cukup mengatakan bahwa Kristus tidak berbuat dosa, melainkan Ia patut dipermuliakan karena Ia tidak dapat ebrbuat dosa. Walaupun pribadi kristus dapat dicobai, tetapi dosa tak mungkin masuk ke dalam kehidupanNya yang sudah ditentukan sejak kekekalan untuk menjadi Anak Domba Allah yang tak bercacat cela.
chip …………………………………….
Oleh: aaaaaaaaaaa on Desember 13, 2008
at 5:58 am
aku agag bingung bacanya,,,
hehehe.. yang jelas bacaan itu semua mengangungkan Yesus..
Nda setuju,,!!!
JBU dek,,,
Oleh: nda on April 5, 2010
at 12:08 pm
Yesus penolong kita smua!!
muliakan namaNya agungkan nama Dia Yesus Adalah Raja dari segala Bangsa!!
Yesus Juruslamat Kita!!
Dia Rela di Kayu Salib tuk tebus dosa kita!!
(hehehhe jadi berlebihan)
Oleh: Willy krisna on Mei 22, 2010
at 10:11 pm